Berita dari Infokom Jawa Timur
HARI KE-3 SURABAYA FULL MUSIK, MUSIK ARTMOSCHESTRA UNGKAP MASALAH SOSIAL
Memasuki hari ketiga Surabaya Full Musik (SFM), kelompok musik Artmoschestra mampu menyuguhkan satu pertujukan musik yang cukup unik. Mereka menampilkan kemahiran bermain alat musik sekaligus mengungkap masalah-masalah sosial yang ada di sekitar.
Artmoschestra merupakan grup musik yang berlatarbelakang pencarian ruang sosial yang tidak stabil dan terkadang membutuhkan banyak energi dan berfikir dalam menerjemahkan ke ruang kesenian, khususnya dalam kesemestraan musik secara makro.
Humas Artmoschestra, Haris di Taman Budaya Jatim (TBJ) Kamis (21/6) malam mengatakan, musik yang disuguhkan mengangkat dialog musik perform menggunakan teknik s mix instrumen dalam beberapa unsur gitar dengan mencoba mensejajarkan kambium mayor, minor, harmonis, disharmonis agar menjadi indah.
Kelompok ini mencoba mengungkap masalah sosial dan carut-marutnya persoalan bangsa dengan kemahiran bermain musik. Semua pemain seakan bebas mengungkapkan isi hati mereka. Pesan dalam lagu, seakan menjadi bukti jika sekarang ini masalah sosial telah berkembang sedemikian pesat. Jika tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin semangat kebersamaan bangsa dan kecintaan terhadap tanah air akan sirna terkikis perkembangan zaman dan pesatnya budaya asing yang masuk.
Kelompok ini mencoba lebih arif dalam mempersembahkan musik instrumental dengan media etnik sebagai penguat warna progresitas dari eksistensi lokal genius. Sedangkan unsur digital sebagai penyampai pesan yang dibumbui akortasi jazz yang mampu membuka mata dan hati pendengarnya.
Kelompok Artmoschestra telah menghasilkan beberapa karya antara lain, The Kenya Land, Mocomocopat, Kotek-kotekan, Gending Gendheng, Trance of Slendro, Setyaning ing Roso, Oseng Using, Habbit on the Earth, dan The Brain Stroming.
Penanggung Jawab Pertujukan SFM, Ati mengatakan, pada pagelaran SFM tahun ini, panitia ingin memberikan lahan bagi para seniman yang ingin berkreasi untuk menampilkan kemahirannya dalam bermain musik. Selama ini, sangat jarang dijumpai tempat atau ajang yang menggelar perjunjukan untuk para seniman musik khususnya musik tradisional.
Pertunjukan yang ditampilkan Artmoschestra telah menunjukan bahwa musik dapat membawa dampak positif sekaligus kontrol sosial. Semangat dari kelompok inilah yang harusnya ditularkan kepada generasi muda.
Humas Artmoschestra, Haris di Taman Budaya Jatim (TBJ) Kamis (21/6) malam mengatakan, musik yang disuguhkan mengangkat dialog musik perform menggunakan teknik s mix instrumen dalam beberapa unsur gitar dengan mencoba mensejajarkan kambium mayor, minor, harmonis, disharmonis agar menjadi indah.
Kelompok ini mencoba mengungkap masalah sosial dan carut-marutnya persoalan bangsa dengan kemahiran bermain musik. Semua pemain seakan bebas mengungkapkan isi hati mereka. Pesan dalam lagu, seakan menjadi bukti jika sekarang ini masalah sosial telah berkembang sedemikian pesat. Jika tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin semangat kebersamaan bangsa dan kecintaan terhadap tanah air akan sirna terkikis perkembangan zaman dan pesatnya budaya asing yang masuk.
Kelompok ini mencoba lebih arif dalam mempersembahkan musik instrumental dengan media etnik sebagai penguat warna progresitas dari eksistensi lokal genius. Sedangkan unsur digital sebagai penyampai pesan yang dibumbui akortasi jazz yang mampu membuka mata dan hati pendengarnya.
Kelompok Artmoschestra telah menghasilkan beberapa karya antara lain, The Kenya Land, Mocomocopat, Kotek-kotekan, Gending Gendheng, Trance of Slendro, Setyaning ing Roso, Oseng Using, Habbit on the Earth, dan The Brain Stroming.
Penanggung Jawab Pertujukan SFM, Ati mengatakan, pada pagelaran SFM tahun ini, panitia ingin memberikan lahan bagi para seniman yang ingin berkreasi untuk menampilkan kemahirannya dalam bermain musik. Selama ini, sangat jarang dijumpai tempat atau ajang yang menggelar perjunjukan untuk para seniman musik khususnya musik tradisional.
Pertunjukan yang ditampilkan Artmoschestra telah menunjukan bahwa musik dapat membawa dampak positif sekaligus kontrol sosial. Semangat dari kelompok inilah yang harusnya ditularkan kepada generasi muda.
-hjr, 2007-06-22 10:43:32
0 komentar:
Posting Komentar