Berita dari Infokom Jawa Timur
HARI KE-3 SURABAYA FULL MUSIK DIRAMAIKAN PARADE GAMELAN
Parade Gamelan yang di gelar Kamis (21/6) siang, di Taman Budaya Jatim (TBJ) untuk meramaikan ajang Surabaya Full Musik (SFM), diikuti 11 grup karawitan Kota Surabaya. Mereka membawakan beraneka ragam musik karawitan klasik dan kontemporer.
Koordinator Parade Gamelan, Luwar MSN di TBJ Kamis (21/6) siang mengatakan, untuk melestarikan seni musik karawitan bisa dilakukan dengan berbagaimacam cara, salah satunya dengan menggelar parade seperti ini.
Selama ini menurut dia, seni musik karawitan sudah jarang terdengar, kalaupun ada mungkin hanya pada even tertentu seperti kawinan, dan pertunjukan wayang. Oleh karena itu, belakangan seniman-seniman musik karawitan mencoba masuk ke lingkungan sekolah mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. ”Sekarang ini banyak sekolah dan perguruan tinggi yang memasukkan karawitan sebagai bidang studi kesenian atau ekstrakulikuler,” katanya.
Karawitan adalah musik yang mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong, ini terlihat dari banyaknya alat musik yang dipergunakan. Masing-masing alat mempunyai keunikan suara dan tingkat kesulitan yang berbeda, namun jika para pemain kompak dalam memainkan alat, maka dapat tercipta satu alunan musik yang harmonis, rancak dan enak didengar.
Hampir semua daerah yang ada di Indonesia mempunyai kesenian musik karawitan. Tetapi masing-masing daerah memainkan musik dengan ciri memainkan alat yang berbeda. Di Bali musik karawitan yang dimainkan bertempo tinggi dan dinamis, sedangkan Solo, musik karawitannya terdengar lembut mendayu-dayu. Beda lagi karawitan dari Jatim, yang mengandalkan irama yang keras dan rancak.
Kekuatan musik karawitan ada pada tiga faktor instrumental, vokal, dan kekompakan pemainnya. Jika ketiga unsur tersebut dapat disatukan maka, akan tercipta satu suguhan musik yang menarik.
Belakangan ini seni musik karawitan banyak yang telah diubah, dari klasik ke kontemporer. Namun menurut Luwar, itu adalah hal yang lumrah karena perkembangan zaman menuntut hal seperti itu. ”Berbedaan antara karawitan kontemporer dan klasik jangan dijadikan masalah, bahkan kita harus berbangga karena masih ada seniman karawitan yang mau berkarya,” tuturnya.
Salah satu pengajar karawitan dari SMA Santa Maria Surabaya, Pam Buko mengatakan, kunci sukses dirinya dalam memperkenalkan musik karawitan di lingkungan SMA adalah, keseriusan dan berusaha untuk memahami kemauan remaja saat ini. Awalnya ia memperkenalkan musik karawitan yang sudah diubah sedemikian rupa, sehingga terkesan lebih modern.
Setelah ada beberapa murid yang mau belajar karawitan, barulah ia memasukkan dasar-dasar kesenian karawitan kepada para murid. Dengan cara tersebut, seni musik karawitan yang terkesan kuno dan membosankan, ternyata dapat dipelajari bahkan disukai anak-anak dan remaja yang mempunyai latar belakang kehidupan modern. ”Heran memang melihat anak-anak remaja ini mampu memainkan alat musik karawitan seperti gamelan, kendang, gong dan bonang dengan sangat baik,” katanya bangga.
Remaja sekarang ini lebih menyukai musik yang berirama cepat, rancak, dan keras, oleh karena itulah Pam Buko, mencoba menciptakan karawitan yang lain dari biasanya. Ia memasukkan unsur perkusi, dan alat musik berupa lempengan seng pada setiap komposisi yang ditampilkan, sehingga, irama yang dihasilkan jadi semakin dinamis.
Menurut dia, sementara ini musik karawitan yang dimainkan masih kontemporer, ke depan ia akan berusaha mengajarkan karawitan klasik pada anak didiknya. Prestasi yang pernah diperoleh grup karawitan Santa Maria adalah pada Pekan Seni Pelajar ke-2 di Madiun 2005 lalu. Grup yang beranggotakan 15 orang ini berhasil masuk lima besar pada Festival Tetembang yang diikuti 26 kabupaten/kota se-Jatim.
Salah satu anggota grup perkusi, Rafika Wendy mengatakan, ia mulai menyukai karawitan sejak melihat permainan beberapa temannya, padahal dulu ia tidak begitu menyukai permainan musik tersebut.
Karawitan yang dimainkan oleh teman-temannya tersebut lain dari biasanya, tempo yang dimainkan lebih keras dan cepat, sangat cocok dengan keinginan remaja saat ini.”Saya sangat senang dengan musik modern, dan guru kami sangat tahu betul mengenai keinginan kami, maka ia menciptakan musik karawitan yang lain dari biasa,” katanya.
Keterangan Foto:
Penampilan Grup Karawitan SMA Santa Maria Surabaya saat meramaikan ajang Surabaya Full Musik di Taman Budaya Jatim.Kamis (21/6) .Foto:hjr
Selama ini menurut dia, seni musik karawitan sudah jarang terdengar, kalaupun ada mungkin hanya pada even tertentu seperti kawinan, dan pertunjukan wayang. Oleh karena itu, belakangan seniman-seniman musik karawitan mencoba masuk ke lingkungan sekolah mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. ”Sekarang ini banyak sekolah dan perguruan tinggi yang memasukkan karawitan sebagai bidang studi kesenian atau ekstrakulikuler,” katanya.
Karawitan adalah musik yang mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong, ini terlihat dari banyaknya alat musik yang dipergunakan. Masing-masing alat mempunyai keunikan suara dan tingkat kesulitan yang berbeda, namun jika para pemain kompak dalam memainkan alat, maka dapat tercipta satu alunan musik yang harmonis, rancak dan enak didengar.
Hampir semua daerah yang ada di Indonesia mempunyai kesenian musik karawitan. Tetapi masing-masing daerah memainkan musik dengan ciri memainkan alat yang berbeda. Di Bali musik karawitan yang dimainkan bertempo tinggi dan dinamis, sedangkan Solo, musik karawitannya terdengar lembut mendayu-dayu. Beda lagi karawitan dari Jatim, yang mengandalkan irama yang keras dan rancak.
Kekuatan musik karawitan ada pada tiga faktor instrumental, vokal, dan kekompakan pemainnya. Jika ketiga unsur tersebut dapat disatukan maka, akan tercipta satu suguhan musik yang menarik.
Belakangan ini seni musik karawitan banyak yang telah diubah, dari klasik ke kontemporer. Namun menurut Luwar, itu adalah hal yang lumrah karena perkembangan zaman menuntut hal seperti itu. ”Berbedaan antara karawitan kontemporer dan klasik jangan dijadikan masalah, bahkan kita harus berbangga karena masih ada seniman karawitan yang mau berkarya,” tuturnya.
Salah satu pengajar karawitan dari SMA Santa Maria Surabaya, Pam Buko mengatakan, kunci sukses dirinya dalam memperkenalkan musik karawitan di lingkungan SMA adalah, keseriusan dan berusaha untuk memahami kemauan remaja saat ini. Awalnya ia memperkenalkan musik karawitan yang sudah diubah sedemikian rupa, sehingga terkesan lebih modern.
Setelah ada beberapa murid yang mau belajar karawitan, barulah ia memasukkan dasar-dasar kesenian karawitan kepada para murid. Dengan cara tersebut, seni musik karawitan yang terkesan kuno dan membosankan, ternyata dapat dipelajari bahkan disukai anak-anak dan remaja yang mempunyai latar belakang kehidupan modern. ”Heran memang melihat anak-anak remaja ini mampu memainkan alat musik karawitan seperti gamelan, kendang, gong dan bonang dengan sangat baik,” katanya bangga.
Remaja sekarang ini lebih menyukai musik yang berirama cepat, rancak, dan keras, oleh karena itulah Pam Buko, mencoba menciptakan karawitan yang lain dari biasanya. Ia memasukkan unsur perkusi, dan alat musik berupa lempengan seng pada setiap komposisi yang ditampilkan, sehingga, irama yang dihasilkan jadi semakin dinamis.
Menurut dia, sementara ini musik karawitan yang dimainkan masih kontemporer, ke depan ia akan berusaha mengajarkan karawitan klasik pada anak didiknya. Prestasi yang pernah diperoleh grup karawitan Santa Maria adalah pada Pekan Seni Pelajar ke-2 di Madiun 2005 lalu. Grup yang beranggotakan 15 orang ini berhasil masuk lima besar pada Festival Tetembang yang diikuti 26 kabupaten/kota se-Jatim.
Salah satu anggota grup perkusi, Rafika Wendy mengatakan, ia mulai menyukai karawitan sejak melihat permainan beberapa temannya, padahal dulu ia tidak begitu menyukai permainan musik tersebut.
Karawitan yang dimainkan oleh teman-temannya tersebut lain dari biasanya, tempo yang dimainkan lebih keras dan cepat, sangat cocok dengan keinginan remaja saat ini.”Saya sangat senang dengan musik modern, dan guru kami sangat tahu betul mengenai keinginan kami, maka ia menciptakan musik karawitan yang lain dari biasa,” katanya.
Keterangan Foto:
Penampilan Grup Karawitan SMA Santa Maria Surabaya saat meramaikan ajang Surabaya Full Musik di Taman Budaya Jatim.Kamis (21/6) .Foto:hjr
-hjr, 2007-06-21 15:59:58
0 komentar:
Posting Komentar