Rabu, 11 Juli 2007

jawapos news

RADAR MADURA
Rabu, 11 Juli 2007

Rabu, 04 Juli 2007
Kelompok Musik Ul-Daul Kabut Hitam Pamekasan Diundang FKY

Lebih Kolosal, Pernah Kolaborasi Bareng Kiai Kanjeng
Musik ul-daul rupanya sudah dikenal di luar Madura. Kelompok Musik Ul-Daul Kabut Hitam Pamekasan diundang dalam FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) pada 9-11 Juli 2007. Bagaimana persiapannya?

ABRARI, Pamekasan

KABUT Hitam resmi dilepas Wakil Bupati Pamekasan Kadarisman Sastrodiwirjo, kemarin. Kelompok musik besutan Supriyanto ini akan mengisi FKY dalam Festival Gamelan Tamu Internasional di Museum Budaya Jogjakarta.

Saat melepas Kabut Hitam, Kadarisman minta agar para duta seni ini menunjukkan dedikasinya. Sebab, ul-daul khas Pamekasan tidak saja tampil di even yang dihadiri warga Indonesia. Di FKY akan juga hadir pengamat seni dan tamu dari berbagai negara.

Tampilnya Kabut Hitam yang mewakili Pamekasan (Madura) di FKY, punya peluang untuk diapresiasi. Baik oleh seniman Jogja maupun mancanegara. "Selamat semoga sukses dan lebih berdedikasi lagi," katanya.

Seniman musik ul-daul dari Kabut Hitam, Supriyanto, memiliki harapan serupa Wabup. Dia ingin duta seni Pamekasan ini lebih berprestasi lagi. Apalagi, musik yang dibidaninya telah memiliki pengalaman tampil di berbagai tempat. Terutama saat berkolaborasi dengan budayawan Emha Ainun Nadjib.

Pengalaman tampil bersama Kiai Kanjengya Cak Nun itu telah dilakukan Kabut Hitam di Malang dan Surabaya. "Di Jogja, kami juga pernah kolaborasi dengan Cak Nun," katanya.

Untuk penampilan di FKY 9-11 Juli, anggota Kabut Hitam terus berlatih. Pasca diepas Wabup kemarin pun, mereka tetap berlatih. Sebelum itu, mereka latihan secara rutin di Pendapa Budaya di rumah dinas Wabup Jalan Jokotole.

Untuk di Jogja, penampilan Kabut Hitam akan lebih kolosal. Mereka mencoba mengolaborasikan seni musik, pencak silat, dan tarian khas Pamekasan lainnya. "Untuk di Jogja, kami bawa 33 personel," ujarnya.

Usai penampilan di Jogja, Kabut Hitam dijadwalkan tampil lagi di Jakarta, 8 Agustus mendatang. Semakin banyak even yang diikuti, Supriyanto berharap ul-daul berkibar sampai di seluruh nusantara, bahkan mancanegara.

Dia mengandaikan suku Asmat di Papua dan Samman di Aceh yang telah melanglang buana ke mancanegara. "Mudah-mudahan suatu ketika tiba giliran Pamekasan ke luar negeri," dia berharap.

Ul-daul awalnya adalah musik yang dimainkan menjelang sahur di bulan puasa. Musik ini yang peralatanya dari drum bekas, tuktuk, dan kadang dilengkapi gamelan ini disebut musik sahur. Musik ini dimainkan secara berkelompok. Jenis musi khas ini juga ada di Sampang dan Sumenep (tongtong). (*)

0 komentar:

The Good Weblog

Design by us-ka.blogspot.com 2007-2008