berita dari koran surya
| Kolaborasi Musik Etnik dan Digital | | | |
| Monday, 21 May 2007 | |
| Malang-Surya Alunan musik etnik dipadu dengan irama digital dari Digital Ethnic Artmoschestra, terdengar merdu memecah keheningan Minggu (20/5) malam, di halaman sekretariat Dewan Kesenian Malang (DKM). Kolaborasi unik antara gitar, keyboard, saxophone, bonang, saron, demung dan angklung serta irama digital yang diperdengarkan dari laptop, menjadikan musik ini begitu beragam. Vokal Bagus Brahmananto yang melengking membawakan lagu `gending gendeng`, `osing-osing` dan `moco macapat`, semakin melengkapi kekhasan musik ini. Menariknya, musik yang ditampilkan dalam pembukaan gelar seni rupa Malang ini tidak hanya dimainkan pemain lokal Malang, namun juga tiga pemuda mancanegara. Mereka adalah Steve asal Inggris yang memainkan bonang, Yanos asal Hongaria yang memainkan musik tiup (Saxophone) serta Mika asal Cheko yang menjadi Disk Jockey (DJ) Digital. Penampilan etnik ini dipadu dengan tata panggung yang juga unik dengan kelambu-kelambu putih dan bangkai pohon yang menambah kesan naturalis. Bagus Brahmananto, sang vokalis, mengakui musik ini diorientasikan untuk mengangkat nafas-nafas seni daerah pesisir. "Karena itu pemilihan lagu juga disesuaikan seperti gending gendeng yang merupakan tembang dolanan atau osing-osing, musik khas Banyuwangi," kata Bagus saat ditemui beberapa saat sebelum tampil. Keberadaan DJ yang mengusung musik digital ini dimaksudkan untuk menggabungkan teknologi modern dengan musik yang tampil live. "Unsur musiknya sendiri diambil dari nada-nada macapat dari syair-syair yang ada seperti pangkur, megatruh atau macapat sendiri," ujar Bagus. Musik etnik digital yang dibawakan Digital Ethnic Artmoschestra ini tidak hanya dinikmati penikmat musik Malang saja, namun sudah tampil di beberapa kota. Bahkan salah satu personilnya, Redy, beberapa waktu lalu pernah menunjukkan kebolehannya di Jerman. Sementara itu dalam gelar akbar seni rupa ini juga diikuti 35 pelukis asal Kota Malang, Kota Batu, Blitar, Pasuruan serta 3 perupa seni instalasi. Ketua Penyelenggara, Yosa Batu P, mengatakan pameran ini sebagai pra kondisi sebelum ajang Bhiennale Jatim ke 2. Karena itu panitia tidak mematok tema khusus dalam pameran ini. "Pameran ini hanya dimaksudkan untuk mencari potensi untuk dikeluarkan di ajang Bhiennale. Disitu akan ada tema khusus yang ditampilkan," kata Yosa.st19 |



0 komentar:
Posting Komentar