Selasa, 28 Oktober 2008

terapi dengan Gamelan

Di Eropa, Gamelan Diajarkan untuk Menanamkan Budi Pekerti May 13, '08 10:54 AM
for everyone


Di Eropa, Gamelan Diajarkan untuk Menanamkan Budi Pekerti

Dibandingkan dengan wayang, gamelan Jawa sudah jauh lebih mendunia. Di Amerika saja terdapat tidak kurang dari 300 set gamelan, dengan ratusan grup memainkannya. Di Paris ada 15 grup, sementara di London kira-kira 20 grup gamelan. Kegunaannya pun tak terbatas untuk seni, tetapi di Eropa malah dipakai untuk terapi. Australia? Terbilang banyak, ada di Sydney, New England, Perth, Adelaide, Armidale. Di Tokyo ada 30 grup. Di Eropa Timur, menurut pemusik tradisi Rahayu Supanggah (56), sekitar sepuluh tahun terakhir ini mulai bermunculan di Hongaria, Bulgaria, Ceko, dan Slowakia.


”Di negara maju, yang saya duga dan rasakan, gamelan punya potensi luar biasa untuk digarap. Alatnya menarik, sumber bunyi luar biasa, sifat keterbukaan luar biasa jika dibandingkan dengan musik-musik Barat, dan penggamelnya tidak ada batasan antara profesional atau amatir,” ungkap Supanggah, Rektor Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo yang juga doktor lulusan Sorbonne, Perancis. Menabuh gamelan, lanjut Supanggah, bagi yang pandai, mereka menabuh di deretan depan untuk instrumen rebab (alat gesek) atau gender.

”Tetapi orang baru belajar dua hari saja sudah bisa ikut nabuh ketuk, saron, dan sebagainya di belakang. Tidak ada gap antara yang pandai dan tidak,” kata musisi kelahiran Boyolali tahun 1949 yang besar di konservatori Solo—sejak usia 16 tahunan—ini. Bandingkan dengan musik di Barat, yang harus menguasai teknik dulu, tujuh tahun baru bisa masuk orkes. Pada gamelan, untuk instrumen di deret belakang, baru belajar dua hari pun bisa ikut karawitan. Hal inilah yang membuat gamelan menarik bagi orang-orang Amerika, atau Eropa.

Gamelan di Eropa juga dikembangkan sebagai terapi. Di Paris sudah ada beberapa penjara yang mengembangkan program gamelan untuk terapi bagi penghuni penjara. ”Penghuni penjara (Eropa), yang biasanya individualis dan tak mau mendengarkan orang, melalui gamelan bisa bekerja sama. Mereka menabuh demung, misalnya, harus menguping yang menabuh bonang dan sebagainya. Mereka jadi belajar hidup kolektif,” kata Supanggah yang pada pementasan Megalitikum Kuantum dalam rangka ulang tahun ke-40 harian Kompas di Jakarta Convention Center, Jakarta, tanggal 29-30 Juni 2005 kebagian menggarap gamelan saat mengetengahkan gending Ketawang Puspowarno ciptaan Mangkunegara IV.


Jika gamelan di Jawa hanya untuk ditampilkan di panggung kesenian, di Eropa juga bisa dipergunakan untuk menanamkan budi pekerti, bahkan untuk menahan emosi, keberingasan.”Teman saya (di Eropa) ada yang bisa menangis hanya karena bisa mengusung gamelan berdua. Mengusung bareng barangkali merupakan hal yang tidak luar biasa bagi kita. Tetapi di Eropa ternyata mengangkat berdua itu pun suatu kebahagiaan, yang tak terpikirkan di kita,” kata Supanggah menambahkan.

Keterbukaan gamelan tidak heran membuat musik Jawa ini begitu populer di Amerika, mulai dari Boston, Wesleyan, Yale, New York, yang menjadi pusat-pusat gamelan di East Coast (Pantai Timur) Amerika Serikat, sampai di West Coast—mulai dari Vancouver (pemain gamelan bule di sini hebat-hebat) sampai Seattle, Berkeley, Santa Barbara, dan juga di University of California Los Angeles (UCLA).


Kendang koleksi KBRI Canberra, Australia.


”Di Mills College ada (pemusik kontemporer terkenal yang juga belajar gamelan) John Cage, Lou Harrison. Amerika memang pusat gamelan di luar negeri,” katanya pula. Di Perancis, tidak hanya di Paris, tetapi juga tersebar di Marseille, Aix en Provence, Nice. Di Cairo, Tunisia, dan Israel pun ada. Keterbukaan sifat gamelan juga tercermin saat Supanggah dan kawan-kawan dari Solo membawakan gending klasik Ketawang Puspowarno, yang menurut konsep penggagasnya, Rizaldi Siagian, bagaimana bunyinya jika suatu ketika musik ini dibawakan oleh makhluk lain di bulan yang tak kita tahu?

”Bersama (pemusik pop) Dwiki Dharmawan kami mencoba menafsirkan Puspowarno ini jika ditampilkan makhluk asing. Gending Jawa sifatnya memang terbuka. Bisa dimainkan secara badutan, tayuban, adiluhung, ataupun kontemporer,” kata Supanggah. Musik Indonesia mana pun, termasuk gamelan Jawa, merupakan musik multikultural, terbuka terhadap warna-warna etnis lain di Nusantara seperti musik etnis Nias, Bali, dan Flores. Sebenarnya ini merupakan perkembangan yang tak mengherankan apabila kita merunut ke belakang, setelah masa perubahan selepas kemerdekaan tahun 1945.



”Ada semacam gerakan ’ngemohi keraton’ (menjauhi keraton) karena setelah masa itu keraton dinilai merupakan peninggalan budaya feodal. Keraton dinilai sudah ketinggalan zaman,” kata Supanggah yang pernah berkolaborasi dengan setidaknya tiga dari lima sutradara paling terkenal di dunia saat ini, yakni Peter Brook, Robert Wilson, dan sutradara asal Singapura, Ong Keng Sen. Ketika ikut menggarap musik I La Galigo arahan sutradara Robert Wilson, Supanggah ikut berpentas di teater paling bergengsi di AS, Lincoln Center Festival, di New York. Akibat gerakan ”dekratonisasi” setelah kemerdekaan ini, budaya gamelan Jawa pun tak lagi dipelajari di keraton, tetapi di kantong-kantong budaya yang tersebar.

”Ketawang Puspowarno pun tidak menjadi milik keraton lagi, tetapi milik orang Jawa, milik siapa saja. Kalau di keraton, Ketawang Puspowarno digarap dengan cara keraton, kalau di Banyumas, ya gaya Banyumas. Kecekel (kepegang—Red) orang desa, ya digarap untuk ledhekan atau tayuban (seperti ronggeng—Red). Di Sragen lain lagi,” kata Supanggah. Tidak mengherankan pula apabila periodisasi gamelan Jawa tidak didasarkan pada zaman, tetapi berdasarkan orang. Ada ”School” (menurut istilah Supanggah) Martopangrawit, School Nartosabdo, dan juga tentunya School Rahayu Supanggah.

Kalau dulu Ketawang Puspowarno yang adiluhung isinya ”nulada laku utama” (meneladan perilaku utama), setelah jatuh ke tangan para pengrawit Sragen (kota kecil di timur Solo) bisa berisi ”rondo malam” (perempuan malam), pengayuh becak, dan sebagainya. Ki Tjokrowasito pun menafsirkan sendiri Ketawang Puspowarno untuk direkam, kemudian rekamannya ikut dibawa ke luar angkasa, Voyage tahun 1977, bersama musik-musik ciptaan Johan Sebastian Bach, Ludwig van Beethoven, dan Mozart.

Sumber: edzamusik.blogspot.com

Senin, 27 Oktober 2008

Photobucket

Selasa, 02 September 2008

RETRO IN LOCAL GENIUS terlahir untuk saling mengerti dan memahami tentang sebuah rasa...dalam penguatan sebuah jati diri yang adiluhung

Selasa, 01 April 2008

KOMUNITAS LEO KRISTI

1.LECTIO
2 LEO KRISTI FRIENSTER
3.SHASIKIRANA
4.LKERS
5.KORAN TEMPO
6.AROENGBINANG
7.MADIUN CLUB
8.ANTARA NEWS
9.ANAK
10.BALI POST

Kamis, 27 Maret 2008

degradasi kharakter lokal

wabah komik Jepang,mengkrisiskan eksistensi komik lokal....

Kamis, 06 Desember 2007

foto eksplorasi redy eko p "bermaen air yuk..??"


Bilik karya foto "waktu kecilku" (Redy Doc)


pernak-pernik gambar



Senin, 03 Desember 2007

Indonesia Ku yang Hilang Indonesia Ku Yang Malang


Tarian Barongan Malaysia


Coba mana yang membedakan?hampir tidak ada perbedaan kan,...?



Reog Ponorogo Indonesia



Silahkan Anda mengikuti langkah saya masuk ke website Kementerian Kebudayaan, Kesenian, & Warisan Malaysia : http://www.heritage.gov.my/ >> Kesenian >> Tarian >> Tarian Tradisional Melayu >> Tarian Barongan (option ke lima dari atas)

Anda akan disuguhi kata-kata seperti ini :

Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.



Silahkan kunjungi website kota Ponorogo, dan Anda akan disuguhi tampilan dari Reog yang mirip dengan Tarian Barongan dari Malaysia ini >>
http://reog.ponorogo.go.id/Menurut cerita kelahiran kesenian Reog dimulai pada tahun saka 900. Dilatarbelakangi kisah tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana, Raja Kerajaan Bantarangin yang sedang mencari calon Permaisurinya. Bersama prajurit berkuda, dan patihnya yang setia, Bujangganong. Akhirnya gadis pujaan hatinya telah ditemukan, Dewi Sanggalangit, putri Kediri. Namun sang putri menetapkan syarat agar sang prabu menciptakan sebuah kesenian baru terlebih dahulu sebelum dia menerima cinta sang Raja. Maka dari situlah terciptalah kesenian Reog.

Bentuk Reog pun sebenarnya merupakan sebuah sindiran yang maknanya bahwa sang Raja (kepala harimau) sudah disetir atau sangat dipengaruhi oleh permaisurinya (burung merak).

Biasanya satu group dalam pertunjukan Reog terdiri dari seorang Warok Tua, sejumlah warok muda, pembarong, penari Bujang Ganong, dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya.

Tulisan Reog sendiri asalnya dari Reyog, yang huruf-hurufnya mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: rasa kidung/ingwang sukma adiluhung/Yang Widhi/olah kridaning Gusti/gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa.

Penggantian Reyog menjadi Reog-yang disebutkan untuk "kepentingan pembangunan"- saat itu sempat menimbulkan polemik. Bupati Ponorogo Markum Singodimejo yang mencetuskan nama Reog (Resik, Endah, Omber, Girang gemirang) tetap mempertahankannya sebagai slogan resmi Kabupaten Ponorogo.

Alur cerita pementasan Reog yaitu warok, kemudian jatilan, Bujangganong, Kelana Sewandana, barulah barongan atau dadak merak di bagian akhir. Ketika salah satu unsur di atas sedang beraksi, unsur lain ikut bergerak atau menari meski tidak menonjol.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.

Adegan dalam seni Reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Sumber : berbagai sumber



Sejak kasus Sipadan-Ligitan, Ambalat, pemukulan wasit dan penyiksaan TKI kita di Malaysia, Pematenan lagu Rasa sayange, Ilir-ilir, Indung-Indung, Si Jali-jali, batik, wayang, angklung, dll, saya pribadi sangat menyayangkan sikap Pemerintah Malaysia yang seolah-olah arogan terhadap bangsa serumpunnya, yakni Indonesia.


APAKAH INI CARA YANG DIGUNAKAN NEGARA MALAYSIA>> YANG DIKENAL DENGAN MAYORITAS MUSLIM...???MENGAPA HARUS MENCURI????ATAUKAH INI PERTANDA KIAMAT KARENA UDAH GERSANGNYA SEBUAH INDENTITAS BANGSA,......

dan hal ini sekalian buat kita refleksikan agar kita selaku bangsa Indonesia sadar bahwa waktu kita tidak hanya sibuk mengurusi PILKADAL.....ITU...!!!!!
tapi fenomenal yang dilakukan MALINGSIA ini udah menyangkut nawas Bangsa Indonesia.....


ARTMOSCHESTRA NEWS

Reog Ponorogo Diklaim Malaysia Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini
Para sesepuh dan tokoh kesenian reog Ponorogo, Jawa Timur, kecewa dan akan berjuang mempertahankan kesenian reog Ponorogo yang kini diklaim sebagai kesenian asli oleh Malaysia.

Salah seorang tokoh kesenian Reog Ponorogo, Ahmad Tobroni, Kamis, di Ponorogo, mengaku sangat kecewa saat mendengar kabar dari situs internet milik Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia yang mengklaim bahwa tarian Barongan yang mirip dengan kesenian reog Ponorogo tersebut adalah milik Pemertintah Malaysia.

"Sebagai warga dan pecinta seni reog, saya merasa kecewa dengan sikap Malaysia yang dengan seenaknya mengklaim seni reog adalah miliknya. Untuk itu kami akan berjuang mempertahankan warisan budaya yang kami miliki," katanya.

Menurut dia, dalam situs internet tersebut menyebutkan tari Barongan yang terdiri atas beberapa penari seperti dadak merak atau barong jathil, seorang raja, dan bujangganong mirip dengan tarian kesenian reog Ponorogo. Selain itu di dalam portal tersebut dinyatakan tarian barongan ini adalah warisan melayu yang dilestarikan dan bisa dilihat di batu pahat Johor dan Selangor Malaysia.

Beredarnya kabar tarian Barongan tersebut membuat warga Ponorogo dan instansi pemerintahan setempat sempat kaget. Pasalnya Pemerintah Kabupaten Ponorogo sendiri telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik kabupaten Ponorogo tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh menteri hukum dan hak asasi manusia Republik Indonesia.

Selain itu, kata Tobrani, sangat tidak relevan jika Malaysia mengklaim kesenian reog adalah miliknya karena selama ini untuk memiliki peralatan tersebut saja mereka membeli dari Ponorogo. "Jadi tidak mungkin bila sebuah negara memiliki kesenian kebudayaan dan tidak mampu membuat peralatannya sendiri," katanya.

Untuk membuktikan hal itu, Tobroni juga sempat melakukan pengecekan ke beberapa perajin reog di Ponorogo dan hasilnya para perajin mengaku dalam tahun ini banyak mendapatkan order dari para pelangannya di Malaysia. "Itu adalah bukti bahwa Malaysia melakukan penjiplakan," katanya. (mo/pd)


ARTMOSCHESTRA HERITAGE

Wayang Kulit

Saka Wikipédia, Ènsiklopédhi Bébas ing basa Jawa / Saking Wikipédia, Bauwarna Mardika mawi basa Jawi

Langsung ke: pandhu arah, golèk

Wayang Kulit iku sajinising pagelaran wayang sing nrapaké bonékah-bonékah saka kulit. Jinis wayang iki kang paling disenengi ing Tanah Jawa. Wayang iki digawe seka kulit kang ditatah lan dientha kaya dene manungsa. Umumé wayang kulit nggunaake lakon Wayang Purwa, nanging ana uga kang nganggo Crita Menak lan Babad Tanah Jawa, crita agama (Kristen, Buddha), perjuwangan, lan maneka warna crita liyane.

Wayang kulit dimainke ing layar putih kang sinebut kelir. Dene wayang-wayang kuwi ditancepake ing debog lan ana ing sisih tengen lan kiwa dhalang. Gamelan kang ana ing sisih mburi ngramaake pagelaran iki.

Bab lan Paragraf

[delikna]

[sunting] Panyebaran

Wayang kulit sumebar ing tanah Jawa lan uga perangan Nusantara, nanging wayang iki luwih disenengi dening wong Jawa Tengah lan saperangan Jawa Wetan. Ing antarane panggonan siji lan liyane nduwe gagrag dhewe-dhewe, sing paling gedhe yaiku Gagrag Ngayogjakarta karo Gagrag Surakarta. Gagrag Banyumas lan Gagrag Pesisiran uga kondhang ing tlatahe dhewe.

Ing jaman saiki, pagelaran wayang antuk owah-owahan. Campursari lan dhagelan mlebu ing antarane pagelaran mau. Amarga wayang uga wis mlebu dadi acara televisi, suwene pagelaran kang asline sewengi sok dikurangi dadi sawetara jam thok.

[sunting] Uba Rampe

Cempala : thuthukan dhalang kanggo ngiringi antawacana lan omongan ing lakon.
Kelir : layar putih kang dibeber kanggo mainke wayang.
Blencong : Senthir kanggo gawe wewayangan, ing jaman saiki ana kalane senthir disulih nganggo petromax utawa lampu listrik.
Kepyak : digawe seka kuningan kanggo iringane dhalang.
Kothak : wadhah wayang lan kanggo dithuthuk Cempala
Gedebog/debog : kanggo tancepan wayang.
Gamelan : kanggo ngiringi pagelaran.

[sunting] Simpingan

Akehe wayang ing kothak ora padha ing antarane dhalang siji lan liyane. Ana kang kurang seka 180, ana uga kang nganti 400 wayang. Wayang mau ana kang ditata ing pakeliran sisih tengen lan kiwa, ana uga kang ing njero kothak.

[sunting] Simpingan Kiwa

Ing antarane kang ditata ana ing sisih kiwa yaiku:

  • Buta Brahala/Ditya Balasrewu
  • Kumbakarna
  • Tremboko
  • Bathara Gana
  • Nilarudraka
  • Bathara Kala
  • Karungkala
  • Bagaspati
  • Yudhakalakresna
  • Kala Pracona
  • Maesasura
  • Lembusura
  • Gajendramuka
  • Niwatakawaca
  • Prahasta
  • Wisnungkara
  • Jambumangli
  • Pancatnyana
  • Arimba
  • Suratimantra
  • Sekipu
  • Getahbanjaran
  • Prabakesa
  • Wisnungkara
  • Brajawikalpa
  • Brajalamatan
  • Yamadipati
  • Rajamala
  • Dasamuka Triwikrama/kurda
  • Dasamuka
  • Sumali
  • Rahwana
  • Bomantara
  • Wesiaji/Watuaji
  • Brajadentha
  • Brajamusthi
  • Indrajid/Meganandha
  • Bukbis/Pratalamaryam
  • Trisirah
  • Trinetra
  • Trikaya
  • Triweneh
  • Trimurdha
  • Dewantaka
  • Dewantumut
  • Narantaka
  • Sagsadewa
  • Kangsa
  • Duryudana
  • Kurupati
  • Setija/Bomanaraksura
  • Bogadenta
  • Sambu
  • {{Baladewa|Prabu Baladewa]] kanthi maneka wanda (versi)
  • Gendara/Prabu Suwala
  • Sugriwa
  • Subali
  • Bathara Indra
  • Prabu Basudewa
  • Matswapati
  • Dhestharastra
  • Dasarata
  • Drupada
  • Salya
  • Bismaka
  • Kencakarupa
  • Rupakencaka
  • Basudewa Nom
  • Gardapati
  • Seta
  • Utara
  • Wratsangka
  • Bismaka
  • Setyajid
  • Resi Bisma
  • Ugrasena
  • Singamulangjaya
  • Setyaki
  • Sanga-Sanga/Jayasanga
  • Arya Prabu Rukma
  • Wibisana
  • Supala
  • Suwanda
  • Adipati Karna
  • Dhresthajumena
  • Denthawilukrama
  • Nakula
  • Sadewa
  • Trigantalpati/Suman
  • Kumbayana
  • Narasoma
  • Narayana
  • Lesmanamandrakumara/Sarojakusuma
  • Bathara Panyarikan
  • Bathara Mahadewa
  • Samba
  • Setyaka
  • Warsakusuma
  • Rukmarata
  • Wisanggeni
  • Pinten
  • Tangsen
  • Denawa Bajang/Sukasrana
  • Bayi Denawa

[sunting] Simpingan Tengen

Kang ditata ing sisih tengen diwiwiti seka wayang Brahala/Dewa Amral/Dewa Mambang dipungkasi nganggo wayang bayen.

  • Brahala/Dewa Amral/Dewa Mambang
  • Prabu Tuguwasesa/Jaya Pusaka/Renggani Sura (versi Yogyakarta/Ki Timbul)
  • Bathara Bayu
  • Bima/Werkudara
  • Dhandunwacana
  • Ramabarghawa
  • Pulasiya
  • Bratasena/Dwijasena/Wijasena
  • Jagal Abilawa/Billawa
  • Guru Putra
  • Bathara Brama
  • Gandamana
  • Bathara Tantra
  • Danaraja/Danapati
  • Antareja
  • Gathutkaca
  • Suryakaca
  • Abiyasa Kurda (marah)
  • Jaya Sumpena
  • Sasikirana
  • Antasena
  • Bathara Baruna
  • Puthut Guritna
  • Wisnu Kapiwara
  • Anoman
  • Resi Mayangkara
  • Bathara Guru
  • Bathara Wisnu
  • Kresna
  • Kresna Dipayana (Prabu Abiyasa)
  • Narasinga
  • Ramawijaya
  • Mahapunggung
  • Watugunung
  • Arjunasasrabahu
  • Kuncara Kresna
  • Kuncara Kresna Nom
  • Sentanu
  • Kamajaya
  • Dasarata
  • Kresna Dipayana
  • Palasara
  • Manumayasa
  • Pandu Dewanata
  • Kariti/Katili/Wilikiti
  • Sekutrem
  • Puntadewa
  • Yudistira
  • Abiyasa Nom
  • Dewabrata
  • Arjuna
  • Dananjaya
  • Leksmana Widagda
  • Suryatmaja/Suryaputra
  • Permadi
  • Ciptaning
  • Wijakangka
  • Yama Widura
  • Abimanyu
  • Parikesit
  • Dewasrani
  • Bathara Surya
  • Bathara Kamajaya
  • Sakri
  • Sucitra
  • Sumantri
  • Wrehatnala
  • Sanjaya
  • Pancawala
  • Priyambada
  • Irawan
  • Sumitra
  • Sidapaksa
  • Jaya Sampurna
  • Bambangan (srambahan)
  • Bathara Narada
  • Arimbi Yaksi
  • Bathari Durga
  • Anjani
  • Jembawati
  • Setyaboma
  • Rukmini
  • Dresanala
  • Erawati
  • Surtikanthi
  • Banowati
  • Gendari
  • Kunthi
  • Drupadi
  • Madrim
  • Trijatha
  • Bathari Uma
  • Bathari Supraba
  • Bathari Wilutama
  • Dewi Amba sakadhang
  • Bathari Sri
  • Sinta
  • Sembadra
  • Srikandhi
  • Larasati/Rarasati
  • Utari
  • Pregiwa
  • Pregiwati
  • Sumpaniwati
  • Siti Sundari
  • Titisari
  • Sang Hyang Wenang
  • Dewa Ruci
  • Wayang Bayen/putran

[sunting] Wayang Dhudahan

Wayang dhudahan yaiku wayang kang ora melu disimping nanging mung disimpen ana sajroning kotak. Biasane wayang dhudahan kuwi klebu wayang sing kerap dilakokake dening Ki Dhalang. Contone wayang dhudahan : 1. Dhudahan Kurawa

  • Patih Sengkuni
  • Pandhita Durna
  • Burisrawa
  • Dursasana
  • Kartamarma
  • Jayadrata
  • Durmagati, Durgempa, Durmuka, lan sapiturute
  • Aswatama
  • Citraksa
  • Citraksi

2. Dhudahan Pandhita lan Dewa ^ Begawan Abiyasa

  • Begawan Sempani/Sapwani
  • Resi Wisrawa
  • Begawan Wilwuk
  • Nagaraja
  • Anantaboga
  • Badawangananala

3.Dhudahan Raseksa (buta) Prepat

  • Cakil
  • Bragalba
  • Buta Rambut Geni
  • Buta Terong

4. Dhudahan Panakawan

  • Semar
  • Gareng
  • Petruk
  • Bagong
  • Togog/Catugora
  • Bilung/Sarawita
  • Cantrik

5. Dhudahan Keparak

  • Keparak/Emban ayu kembar
  • Ampil-ampil
  • Limbuk
  • Cangik

6. Dhudahan Prajurit

  • Patih Udawa
  • Druwajaya
  • Pragota
  • Prabawa
  • Patih Tuhayata
  • Patih Saragupita
  • Patih Adimanggala
  • Patih Sabrangan
  • Ampyak/Prampogan
  • Wisata lan Wilmuka
  • Demang Sarapadha/Cekruktuna
  • Wadyabala Buta Pringgodani (Kalabendana, lsp)
  • Wadyabala Buta Ngalengka (Anggisrana,Yuyu Rumpung, Wil Kathaksini lsp)
  • Wadyabala Buta Kajiman/Bajulbarat
  • Wayang Setanan
  • Prajurit Kethek Tambak

7. Dhudahan Wanara

  • Anila
  • Anggada
  • Jembawan
  • Trigangga/Triyangga
  • Kapi Anggeni
  • Kapi Indrajanu
  • Kapi Suwida
  • Kapi Pramujabahu
  • Kapi Kingkin
  • Kapi Warjita/Cacingkanil
  • Kapi Janulen
  • Kapi Menda
  • Kapi Cucak Rawun
  • Kapi Saraba

8. Dhudahan Sato Kewan

  • Gajah(Liman/Dwipangga/Diradha/Matengga.)
  • Banteng (Andhaka)
  • Macam (Simo/Sardhula)
  • Ula (Sarpa/Taksaka)
  • Celeng (wraha)
  • Garudha
  • Kidhang
  • Landhak
  • Jaran (Kudha)

9. Dhudahan Pusaka

  • Kreta Kencana
  • Maneka warna gegaman (Gadha, keris, jemparing, lsp)

[sunting] Para Dhalang

[sunting] Delengen Uga

ARTMOSCHESTRA HERITAGE

Wayang Kulit :
the indonesian shadow puppet

Wayang Kulit in Central Java is probably one of the oldest continuous traditions of storytelling in the world, and certainly among the most highly developed.


:

The wayang is a flat or round puppets used for shows in Java.The wayang kulit is the flat one and it is made with buffalo leather. They are maipulated behind a white screen with a back light, so the attendance can see them as shadow puppets.

Wayang is well integrated in Javanese society, and it is considered to be a highlight of Javanese culture.

Wayang Kulit was already established in the East Javanese kingdoms one thousand years ago.





Wayang
is a Javanese word meaning "shadow" or "ghost", kulit means "leather", and added together "shadow from leather". By extension Wayang is a theatrical performance of living actors (wayang orang), three dimensional puppets (wayang golek) or shadow images projected before a backlit screen (wayang kulit).

The wayang kulit use two-dimensional puppets chiseled by hand of buffalo or goat parchment; like paper dolls, but with arms that swivel.

A wayang kulit puppet is a stylized exaggeration of a human shape.

Of the many different style of wayang kulit, by far the most popular is the form practiced in Central and East Java, the most populated island of Indonesia.

In the following page, you will find a description of a performance in a Javanese village. Then we have made several pages to explain whet Wayang is about. Most of the stories are from Indian epics but they were transformed by generations of Javanese tellers.


Sabtu, 11 Agustus 2007

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Kethuk and Kempyang

The kethuk and kempyang span are colotomic
or structure-marking instruments
in the Javanese gamelan ensemble.
The parts are not melodious or even particularly
challenging to play. However, the kethuk
and kempyang are helpful in defining
the beat and keeping the ensemble playing together.

Both the kethuk and kempyang
are horizontal gongs much like the kenong or bonang.
Frequently, both instruments will be played by one musician.

Kethuk

Kethuk.

The kethuk is a single kettle-gong of definite pitch
(the kethuk of the Kyai Telaga Rukmi ensemble is
a pitch 2; see pages about the Javanese scales and
cipher notation for more information.)
It is played in one of two ways depending upon
the irama (speed) of the piece. In a fast irama
the musician strikes the button or knob of
the instrument without letting the stick rebound or the note ring.
The sound of the kethuk is a dry "Thuk"
(the name of the instrument mirrors its sound).
In a slower irama the kethuk is played in a kind of "dribbling" pattern somewhat like "Thuk thuk thuk thuk thuk".

Kempyang

Kempyang

The kempyang consists of two kettle-gongs
of higher pitch than that of the kethuk. Either
one or both kempyang kettles may be stuck and
allowed to ring with a "Pyang" sound. The two kettles
are pitched about a note apart, so it can be a very
disonant sound when they are struck together.

gamelan in the worlds

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Drums

Javanese drums.

There are several drums or kendhang
of different sizes in a Javanese gamelan ensemble:
kendhang ageng, kendhang wayangan, kendhang ciblon,
and kendhang ketipung (not all of the drums
are necessarily played in one piece).
The laced drums have skin heads on
both sides are are played with the hand. Usually,
one musician will play the drums, one or two at a time.
The drummer supplies many of the signals to the rest of the group.
Some drum patterns may mean finish the piece,
another may mean change to a new piece,
while yet another drum pattern may mean switch styles of playing.
In a gamelan ensemble, the drums are not the only signal,
other instruments like the bonang barung
or rebab may lead the ensemble melodically.

Because the drums are played with the hands,
they have a wide variety of sounds from
a high pitched "tak" to a low "dlong."
I have never played the drums, so I do not know many of the details....

gamelan in the worlds

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Gendèr Real Audio 8 sound file of the gendèr.

Two gendèr.

The gendèr (pronounced gen - DARE)
is a soft instrument with multioctave range.
The thin metal bars are suspended by cords above
tubular resonators that amplify and sustain the sound.
There are two sizes of gendèr: gendèr barung (lower)
and gendèr panerus (higher). Each plays an elaborate melody
derived from the main melody of a piece of music, or balungan.

Gendèr are played with two hands, each holding
a mallet with a padded disk-shaped head.
Because the instrument has incredible sustain,
the sound must be dampened with
the wrists after striking the next note (or notes).

Gendèr come in threes (unlike most instruments, which come in pairs).
One gendèr is for the sléndro scale,
and there are two pélog gendèr for different pathet,
or modes. One pélog gendèr has pitches 1 2 3 5 6,
while the other has pitches 2 3 5 6 7. (Read more about the Javanese scales
and cipher notation.)

gamelan in the worlds

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Kenong

Kenong.

The kenong, like the gongs, are punctuating instruments.
The kenong are related to gongs. Essentially,
a kenong kettle is a small, but deep tuned
gong that is suspended on cords in a rack.

The musician sits in the middle
of all of the instruments (which include kettles from both scales).
Kenong beaters are large sticks with a padded end. Normally,
the musician will play a kenong and let it ring.
In some pieces, the kenong is played in rapid succession.
The player must dampen the instrument with the beater
so only the desired pitch is heard.

In many pieces, the kenong play at the end of each line
(called kenongan). A number of kenongan makes up a gongan,
or one gong-cycle of a piece.

More Javanese gamelan instruments.

gamelan in the worlds

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Gong Ageng, Gong Suwuk,

and Kempul

In Javanese gamelan, the gongs are colotomic or
punctuating instruments that mark
the musical structure of the piece.
They do not play constantly, instead they
play at regular intervals (along with the
kenong, kethuk, and kempyang) to
punctuate a piece of music.

The "big" gongs.

Gong Ageng and Gong Suwuk

The gong ageng
(the two dark-colored
gongs in the photograph)
are very important to
the gamelan. They mark
the end of major divisions called gongan. The big gong is also
used when ending most pieces.
The gong suwuk
are large gongs of definite pitch.
In some pieces,
they are used to mark
different gongan or when
there are many gong strokes
in rapid successesion
(the gong ageng sounds muddy if played often).
Kempul.

The Kempul

The kempul are a set
of pitched gongs.
These instruments often
subdivide a line
of gamelan music.
There are two racks of
gongs because of the two
gamelan scales, or laras.

More Javanese gamelan instruments.

gamelan in the worlds

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Slenthem

Slenthem.

The slenthem frequently plays the same
basic melody as that of the saron. Occasionally,
it does have its own important part to play.
It is low in pitch, and its sound sustains for a relatively long period
of time because of the tubular resonators below each bar.
It is a quiet instrument and its sound helps to soften that of the saron.

With the resonators and thin bars,
the slenthem is related to the higher pitched gendèr.
It is played with one hand holding a padded wooden disk beater (with a handle) and the other hand for dampening notes previously struck.
As with many other gamelan instruments, the slenthem come in pairs for the two scales.

More Javanese gamelan instruments.

gamelan in the worlds

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Saron (Demung, Barung, and Peking)

Saron instruments

The saron form the backbone of the Javanese gamelan ensemble.
Typically, they play the melody along with the slenthem.
This melody line, the balungan (literally "skeleton"),
is the part from which all of the elaborating instruments
(like the bonang and gendèr) derive their parts.

Because Javanese gamelan has two scales, pélog and sléndro,
each saron of a large set come in pairs. When playing the saron,
one strikes the metal bars with a hammer in one hand and dampens notes with the other.

Demung (sléndro).

The Demung

The demung is the largest and lowest of the saron. It is played with a hammer with a wooden head.
Saron (barung) in pélog.

The Saron

The saron (also known as saron barung) is somewhat smaller than the demung. Its bars sound an octave higher than those of the demung.
Peking (sléndro).

The Peking

The peking (also known as the saron panerus) is small and plays high notes (an octave higher than the saron). When playing the peking, one uses a hammer made from an animal horn. The peking usually playes an elaboration on the basic melody.

More Javanese gamelan instruments.

gamelan in the worlds

Javanese Gamelan.

Skip navigation.

The Bonang

Bonang.

The bonang has no equivalent in Western music.
Some people call the bonang "gong chimes."
The bonang are in fact related to gongs.
Each kettle on the rack is basically
a small tuned gong oriented so that the button is on top.
These kettle gongs are suspended on cords
and do not have any resonators.

Bonang are played with both hands
using cord wrapped beaters. Because a player uses both hands
to play the instrument, he or she must also
dampen notes with the beaters themselves.

The Javanese gamelan has two pairs of bonang instruments:
the bonang barung and the bonang panerus.
There are two of each bonang to play in the two gamelan scales.

Bonang Barung

The bonang barung is the lower of the two instruments.
Melodically, it is one of the more important instruments
in a Javanese gamelan ensemble. In many loud pieces,
it is the melodic leader playing an elaborate version of the basic melody.

Bonang Panerus

The bonang panerus plays an octave higher
than the bonang barung. It usually plays a fast
melodic strain based on that played by the bonang barung.

In some pieces, both bonang play a fast
interlocking pattern called imbal. You can hear an example
of this in Playon Gambuh.

More Javanese gamelan instruments.

The Good Weblog

Design by us-ka.blogspot.com 2007-2008